Senin, 18 Juni 2012

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”, kata Gus Mus


KH. Musthofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus merupakan salah satu dari sekian banyak  Ulama’ yang kita miliki. Gus adalah sapaan ala masyarakat pesantren kepada seorang putra Kyai. Ya, Gus Mus adalah putra dari KH. Bisri Musthofa (Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang).

Gus Mus, Kyai lulusan Universitas Al Azhar Cairo ini sekarang sedang disibukkan dengan menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang.  Selain dikenal sebagai seorang Kyai, Gus Mus juga dikenal sebagai seorang Budayawan, Penulis produktif, dan Seniman. “Cintamu”, “Ada Apa Dengan Kalian”, “Sajak Atas Nama”, dan “Gelap Berlapis-lapis”, adalah sekian dari banyak puisi karya beliau. Diantara puisi-puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” adalah salah satu yang aku sukai. Rangkaian kata Bahasa Indonesia dengan menggunakan tata Bahasa Arab ala Gus Mus yang satu ini memiliki seni yang tinggi. Kritik pedas yang disampaikannya terdengar sangat indah karena dibalut dengan seni. Apalagi alunan musik yang syahdu dan logat khas bacaan Gus Mus yang semakin membuat keindahan puisi ini begitu lengkap. Selamat menikmati sajian kali ini......

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir


Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
-1987-

31 komentar:

  1. apik iki..
    suka sama puisi yang satu ini..
    dan saya baru tahu nama beliau baru-baru ini -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ning unnie..:D
      Masih ada banyak lo karya2 beliau yang bagus2. Cari deh..

      Hapus
  2. Bagus sekali. Aku pertama tahu puisinya Gus Mus yang ini....:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Indra Purnama.. Silahkan dengarkan puisi2 beliau yang lain yang tidak kalah bagus, seperti Aku tak bisa lagi menyanyi, Negeriku, Di negeri amplop, Negeri hahahihi, dan Aku masih sangat hafal nyanyian itu. :)

      Hapus
  3. Oh.. Mustofa Bisri..
    Hakekat dirimu kau tuangkan dalam puisi
    Semua yang kau debat adalah ajaran Nabi
    Tak ku sangka kau begitu berani
    Ajaran Nabi kau tertawakan hi hi hi

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Ketika dulu aku masih kuliah
    Aku selalu datang dimanapun kau ceramah
    Aku selalu menyimak perkataanmu yang penuh petuah
    Aku semakin yakin kau wali penuh karomah

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Kini aku terperanjat dan nelangsa
    membaca pusimu berjudul "lalu aku harus bagaimana..??"
    Kini kekagumanku padamu berangsur sirna
    Mustofa Bisri yang dulu dan sekarang sudah berbeda

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Seluruh Putra-Putri Nabi meninggal tidak di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Ketika Nabi wafat tidak di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Tak satupun sahabat yg gugur dan meninggal di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
    Putra-Putrinya meninggal tidak diselamati..??
    Padahal beliau adalah seorang Nabi
    Apa pendapatmu Oh.. Mustofa Bisri..

    Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
    Ada amalan mulia yaitu "SELAMAN dan KENDURI"
    Padahal beliau adalah seorang Nabi
    Apa pendapatmu Oh.. Mustofa Bisri..

    Kau debat jenggot dan celana cingkrang..
    Padahal itu Sunnah Nabi yang sangat terang
    Seolah kau anggap kami yang mengarang..
    Ada apa denganmu wahai Budayawan yang sudah malang melintang

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Kau dahulu adalah IDOLA ku
    Kini sikap dan tulisanmu membuatku pilu
    Tarik lah semua puisi yang melecehkan Nabi mu dan Nabi ku
    Semoga Alloh memberi hidayah padamu..

    ==dibuat oleh Dua Sahabat==
    pengagum Gus Mus yang dulu
    bukan gus mus yang sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus semangat belajar bung. Jangan pernah berhenti belajar! :)

      Hapus
    2. kata kata mana yang melecehkan Nabi akhi?

      Hapus
    3. sepertinya puisi diatas menyinggung pemerintahan, kenapa larinya ke Nabi hadeeehhh....

      Hapus
    4. Sepertinya lagi agak bingung ini...

      Hapus
    5. "Kau debat jenggot dan celana cingkrang..
      Padahal itu Sunnah Nabi yang sangat terang"

      Urus wae jenggotmu ben dawa
      Urus wae clanamu ben cingkrang

      Hapus
    6. Sepertinya butuh aqua iniih..cck

      Hapus
    7. nikmatnya kebersamaan dan begitu indahnya perbedaan.... V^_^

      Hapus
    8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    9. Maaf, Mas Dua Sahabat, puisi mengenai "Lalu Aku Harus Bagaimana" yang terdapat kata jenggot dan celana cingkrang itu bukan puisi Gus Mus.

      Hapus
  4. aku suka puisi ini, karena cocok dgn lingkungan kerjaku dan untuk seseorang yg aku kenal, orang yg membuat kita serba salah

    BalasHapus
  5. Hehehe hati2 dalam berkata...jika aku bilang merah...sebagian orang langsung ingat darah padahal penulis maksudnya bunga mawar.

    BalasHapus
  6. I like this poetry so much.. I know these poetry from my friends when we are in Oprec P&K.
    Ohh . . a beautiful poetry

    BalasHapus
  7. prsaan gk ada sangkut pautnya dgn nabi deh,,

    BalasHapus
  8. Saya baru saja menyaksikan mata najwa siang hari ini..sosok kh mustofa bisri begitu menyentuh hati. Alhamdulillah kita memiliki kyai yang mengayomi seperti kh mustofa bisri.
    (Ahmad supsrtono)

    BalasHapus
  9. Dua sahabat. Lucu baget puisi anda. Klo smpe ketauan anak TK pasti di tertawakan. Jaka sembug bawa golok ga nyambung GOBLOK. yg ngomong nabi tu siyapa GOBLOK.

    BalasHapus
  10. Membacanya langsung merinding ��

    BalasHapus
  11. Ternyata banyak insan yang tertipu dengan bualan Mustopa bisri .. sungguh mengerikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting tidak tertipu dengan bualan Anda

      Hapus
  12. Mantep sastrawan kebangaan saya.
    Beliau inspirasi dalam sastra indonesia.

    BalasHapus
  13. Compliments of the day,

    I am Mrs Belen Watson, I'm writing this message to you With due
    respect, trust and humanity, I got your email address after an
    extensive on-line search via network power charitable trust for a
    reliable person. I appeal to you to exercise a little patience and
    read through my letter, I feel quite safe dealing with you in this
    important message, I'm sincerely writing this email to you with pains,

    tears and sorrow from my heart, I will really like to have a good
    understanding with you and i have a special reason why i decided to
    contact you, I decided to contact you due to the urgency of my
    situation. I'm writing you from hospital bed, Therefore this message
    is very urgent. I have a donation to make which I will need your
    assistance to carry it out, I will be 62 years old this coming month,
    I'm a widow and a government worker for many years here in Ivory
    Coast. I have sum of US$5Million (five Million United States dollars)
    with my late husband Hon. John Watson, I want to give it out to,

    I have a serious cancer disease and will be going for my third
    surgical operation, although the doctors had already confirmed that I
    will only last for some months but I am glad that the lord has kept me
    safe and guided me to accomplished my desires. I want you to contact
    my house helper, I have given him the documents of the funds and have
    directed him to a lawyer that will assist you to change the documents
    of the fund to your name to enable my bank transfer the fund to you.

    Stephen Judge.
    Address: Avenue 16, Wade Ave,
    Abidjan 16, Cote d'Ivoire.
    +225 56 25 27 68

    He will give you the documents and direction on how you will contact
    the lawyer that I have appointed to him to assist you, The lawyer will
    do everything on your behalf here in Ivory Coast to assure the success
    of the transaction.

    This are the favour i need from you after you received the fund under
    your control.

    (1) Give 10% of the money to Stephen Judge. as he has been here for me
    throughout my illness and I have promised to support him, therefore
    you will take him as my or your child.

    (2) Give 60% of the money to Charity organizations, orphanage homes
    and Churches e.t.c, on my name so that my desires will be fulfilled.

    (3) The remaining 30% should be for you and others that you may
    personally wish to assist.

    email me back :belenwatson5@gmail.com

    Remain Blessed.
    Mrs Belen Watson

    BalasHapus

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More