My Family

Inilah Keluarga Kecilku di Surabaya

Puisi Gus Mus

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Ma Lii Habibun Siwa Muhammad

Aku Mencintai-Mu Tanpa Ku Tahu Siapa Diri-Mu

Tak Kan Terganti

Alunan Simfoni yang Sebenarnya Aku Tak Ingin Mendengarkan Lanjutannya

Showing posts with label Tentangku dan coretan tidak pentingku. Show all posts
Showing posts with label Tentangku dan coretan tidak pentingku. Show all posts

Tuesday, 18 November 2014

Rindu Cinta-Nya

6 comments

Lewat hujan siang ini Tuhan membahasakan cintanya pada kota Kretek ini. Seakan rindu akan cinta Tuhannnya, rerumputan di lereng gunung Muria menengadah menyambut bulir-bulir hujan yang turun. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak mereka tentang surga dan neraka, apalagi merindukan keduanya. Yang mereka tahu hanyalah merindukan siratan cinta sang pencipta.

Tuesday, 20 August 2013

Simfoni Terakhirku di Surabaya

1 comments

Alunan suara-suara kehidupan yang terus mengikutiku di usia 22 ini terasa semakin indah. Genap empat tahun telah ku jalani patahan cabang hidupku di kota orang. Genap empat tahun pula telah ku kenal orang-orang yang mengisi hari-hariku di kota tersebut. Alunan merdu suara itu telah mengantarkanku pada kenyamanan; kenyamanan yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menciptakannya kembali. 

Tahun ini adalah tahun ke-4, tanda bagiku untuk segera pulang dan mengamalkan yang telah ku dapatkan di sini, di kota pahlawan ini. Selama 4 bulan terakhir telah ku habiskan malam dan pagiku agar sesegera mungkin dapat ku kembalikan udara yang telah diberikan oleh kota kelahiranku selama 18 tahun. Satu syarat yang harus dikerjakan agar dapat segera pulang ini membuat empat bulan terakhir menjadi lebih indah. Sempat pesimis di awal pengerjaan Tugas Akhir, orang-orang di sekitarku membuatku kuat. Malam demi malam ku jalani pelan-pelan, semampuku. Dengan segala puji bagi Allah Tuhanku, tak kusangka pekerjaanku bisa selesai, walaupun dengan banyak kekurangan.

Wednesday, 30 January 2013

Senandung Kalimat Tahlil

2 comments

Dari Mu'adz ibn Jabal, ia berkata "sabda Raulullah SAW: Siapa yang akhir kalamnya "Laa Ilaha Illa Allah" maka ia akan dimasukkan surga" (Rowahu Abu Dawud). Betapa bahagianya orang dari golongan tersebut. Allahumma ij'alna minhum, Amiin..

Kalimat thoyyibah yang memiliki arti "Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah" itu memang ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan pahalanya. Begitu beratnya sehingga orang yang ucapan terakhirnya adalah kalimat "Laa Ilaha Illa Allah" dijanjikan surga. Tidak main-main memang.

Sifat daur dan tasalsul yang mustahil dimiliki Tuhan telah menunjukkan keesaan-Nya, bahwa Tuhan tidak boleh lebih dari satu. Ya, makna yang terkandung dari lafadz tersebut sangat jelas. Lafadz "Laa" yang memiliki faidah nafi lil jinsi berfungsi untuk menafikan (meniadakan) isim (kata benda) yang jatuh setelahnya.

Wednesday, 18 July 2012

Liburanku Yang Malang

4 comments

Sudah tiga tahun memang aku berada di kota ini, kota penuh perjuangan, kota pahlawan. Sejak tiga tahun lalu, kulitku mulai terbiasa dengan cuaca kota panas ini, lidahku mulai terbiasa dengan makanan-makanan kota yang khas dengan lontong balapnya ini, mata indahku mulai terbiasa dengan pemandangan-pemandangan kota metropolitan ini, kaki mungilku mulai terbiasa dengan jalan-jalan kota ini, bahasaku mulai membiasakan dengan bahasa kota yang menjadi icon Jawa Timur ini, apapun dari hidupku nampaknya sudah terbiasa dengan kota ini. Kini memasuki tahun keempat ku berada di Surabaya. Insyaallah ini tahun terakhir ku berada di sini. Berbeda dengan tahhun-tahun sebelumnya, nampaknya tahun ini sedikit lebih ada feel. Entah kenapa.. Mungkin karena neuron-neuronku telah menyadari bahwa diriku di kota ini tinggal sebentar, dan parahnya belum ada yang bisa dibanggakan dari hidupku di kota pahlawan, di kampus perjuangan ini.

Tiga tahun masa perkuliahan ini berlalu, berarti enam kali liburan semester telah terlewati. Ya, di setiap akhir semester setelah UAS (Ujian Akhir Semester) selalu diikuti dengan liburan. Liburan untuk menghilangkan penat setelah selama satu semester bergulat dengan sekian mata kuliah. Liburan untuk memanfaatkan pengalaman yang telah diperoleh di bangku kuliah. Liburan untuk menyiapkan semester berikutnya. Istirahat dan persiapan, mungkin itu maksud dari adanya liburan di akhir semester.

Monday, 18 June 2012

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”, kata Gus Mus

46 comments

KH. Musthofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus merupakan salah satu dari sekian banyak  Ulama’ yang kita miliki. Gus adalah sapaan ala masyarakat pesantren kepada seorang putra Kyai. Ya, Gus Mus adalah putra dari KH. Bisri Musthofa (Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang).

Gus Mus, Kyai lulusan Universitas Al Azhar Cairo ini sekarang sedang disibukkan dengan menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang.  Selain dikenal sebagai seorang Kyai, Gus Mus juga dikenal sebagai seorang Budayawan, Penulis produktif, dan Seniman. “Cintamu”, “Ada Apa Dengan Kalian”, “Sajak Atas Nama”, dan “Gelap Berlapis-lapis”, adalah sekian dari banyak puisi karya beliau. Diantara puisi-puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” adalah salah satu yang aku sukai. Rangkaian kata Bahasa Indonesia dengan menggunakan tata Bahasa Arab ala Gus Mus yang satu ini memiliki seni yang tinggi. Kritik pedas yang disampaikannya terdengar sangat indah karena dibalut dengan seni. Apalagi alunan musik yang syahdu dan logat khas bacaan Gus Mus yang semakin membuat keindahan puisi ini begitu lengkap. Selamat menikmati sajian kali ini......

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Tuesday, 8 May 2012

Peranan Pesantren Sebagai Pengawal Kebudayaan Islam di Tanah Air

0 comments

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin pada mulanya datang ke Indonesia lewat para pedagang dari Gujarat. Bagaimana bisa Islam sebagai agama pendatang menjadi agama mayoritas? Apakah dikarenakan metode dakwah Islam yang keras seperti sekarang ini? Tentu saja tidak. Metode dakwah Islam sekarang yang keras (walaupun tidak keseluruhan, tapi itulah yang terlihat di mata dunia) malah menimbulkan banyak berkurangnya simpatisan Islam. Bukan menimbulkan citra baik di mata dunia malah memperburuk citra Islam.

Masih ingatkah kita dengan metode-metode yang digunakan oleh para wali di tanah Jawa dulu? Sunan Giri dengan Gending Asmaradana dan Pucung, Sunan Kalijaga dengan Wayang Kulit dan Gamelan, Sunan Muria dengan Tembang Kinanthi dan Sinom, Sunan Kudus dengan Menara dan Sapi, dan masih banyak yang lain. Lewat tradisi-tradisi masyarakat Jawa yang memiliki berbagai kepercayaan seperti Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme, para wali dengan sangat perlahan-lahan memasukkan syari’at Islam ke dalam tradisi yang sudah ada, sehingga masyarakat Jawa yang dulunya mayoritas Hindu-Budha sekarang menjelma menjadi masyarakat Islam. Dengan memprioritaskan toleransi yang sangat tinggi itulah para wali mampu merebut hati masyarakat Jawa zaman dahulu, sehingga sampailah Islam pada generasi kita.

Masih ingatkah kita dengan peran para Ulama’ era Kemerdekaan? Dengan kebijakan-kebijakan dan fatwa-fatwa yang sangat menjunjung tinggi toleransi akhirnya Republik Indonesia berhasil mempertahankan kesatuan Negara ini. Demi kesatuan Republik Indonesia, Panitia Sembilan yang didalamnya terdapat K.H.A.Wahid Hasyim tidak memaksakan untuk mempertahankan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sebagai sila pertama Pancasila. Betapa mulianya keputusan tersebut sehingga NKRI bisa utuh tidak terpecah belah satu sama lain.

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More