My Family

Inilah Keluarga Kecilku di Surabaya

Puisi Gus Mus

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Ma Lii Habibun Siwa Muhammad

Aku Mencintai-Mu Tanpa Ku Tahu Siapa Diri-Mu

Tak Kan Terganti

Alunan Simfoni yang Sebenarnya Aku Tak Ingin Mendengarkan Lanjutannya

Showing posts with label Tentangku dan jalanku. Show all posts
Showing posts with label Tentangku dan jalanku. Show all posts

Tuesday, 9 December 2014

Keadilan Tingkat Tinggi

0 comments

Dalam ilmu logika, p implikasi q akan ekuivalen dengan ~q implikasi ~p. Contoh: "jika adik naik kelas, maka Ibu akan membelikannya sepatu". Kalimat tersebut akan ekuivalen dengan "Ibu tidak membelikan adik sepatu, berarti dia tidak naik kelas."

Berhubungan dengan logika di atas, ada yang menarik dari hadits "Man yuridillahu bihi khoiron yufaqqihhu fiddin". Barang siapa yang dikehendaki khoir (baik) maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Tanpa memperhatikan konteks lebih dalam tentang "khoir" dan "faham dalam agama", kalam tersebut ekuivalen dengan "man lam yufaqqihhu fiddin lam yuridillahu bihi kohoiron". Barang siapa yang tidak difahamkan dalam agama maka Allah tidak menghendakinya khoir (baik).

Pemahaman pasarnya; berarti ada golongan yang dikehendaki Allah khoir, dan ada pula golongan yang tidak dikehendaki Allah khoir. Lebih jauhnya; ada yang dikehendaki Allah baik, adapula yang dikehendaki Allah buruk. Lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki pahala, ada yang dikehendaki dosa. Lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki mu'min, adapula yang dikehendaki kafir. Sedikit lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki surga, adapula yang dikehendaki neraka.

Lebih parahnya lagi, jika Allah sudah menghendaki kafir, tak ada satupun yang mampu membuat menjadi mu'min. Contohnya Iblis. Iblis sudah dinash bahwa dia kafir, aba wastakbar wa kana minal kafirin. Kalu iblis ingin membatalkan ketuhanan Allah, mudah saja, tinggal dia berpindah menjadi mu'min maka akan batal Kalamullah. Namun apa daya, sekuat apapun tenaga kita mendakwahi iblis agar beriman, sampai kapanpun kita tak akan berhasil. Orang jawa menyebutnya "kalah sabdo", sudah terlanjur kalah sama Nash.

Wednesday, 3 December 2014

Hidup Tak Melulu Tentang Surga dan Neraka

0 comments
Atas nama apapun atau siapapun
Kami yakin tiada yang pantas masuk ke surga Tuhan
Namun atas nama apapun atau siapapun pula
Kami yakin tiada yang kuat berada di neraka Tuhan
Maka tiada yang pantas menyatakan kebenaran itu di surga dan kesalahan di neraka
Karena kami yakin surga dan neraka urusan ridlo Tuhan
Penggalan puisi di atas ku tuliskan 2 taun yang lalu, tepat pada saat ulang tahun Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dua tahun berselang, hari ini aku pun masih setuju dengan tulisanku itu. Allah adalah raja diraja yang menguasai kehidupan. Setiap jengkal rel kehidupan ini tak kan pernah luput dari Qudrat dan Irodat-Nya. Semua kereta berjalan menurut relnya masing-masing yang telah ditataNya rapi. Begitulah kehidupan yang ku ibaratkan rel kereta.

Jika analogiku tentang kehidupan ini benar, maka tak ada satupun makhluk yang layak meminta neraka, apalagi mengharapkan surga.

Apapun yang kita kerjakan adalah karena Qudrat dan Irodat-Nya. Tak ada yang bisa kita banggakan sama sekali dari diri kita. Lantas, masih pantaskah kita meminta balasan?. Sudah selayaknya kita tak meminta imbalan pada Tuhan atas setiap "pekerjaan" dan "rencana"-Nya sendiri.

Tuesday, 2 December 2014

Hidup Ini Ibarat Rel Kereta, Kawan

0 comments

Kalau aku boleh menganalogikan, hidup ini ibarat kereta dengan relnya. Setiap kereta berjalan di atas relnya masing-masing. Tidak ada kereta yang berjalan seenaknya sendiri keluar dari rel. Bahkan di setiap persimpangan, rel harus ditata dulu sebelum kereta melewatinya.

Semua telah diatur dengan teratur untuk menjalankan kereta dari satu tempat ke tempat yang lain.

Begitulah hidup. Tuhan adalah aktor di balik kehidupan ini. Ia maha merencanakan sekaligus maha menjalankan. Dengan kekuasaanNya (Qudrat), Ia mengatur semua yang telah Ia ciptakan. Tak ada satu pun yang bertindak seenaknya di luar perencanaanNya (Irodat). Begitu juga tak ada satu pun yang memiliki kuasa selain kuasaNya.

Tuesday, 18 November 2014

Rindu Cinta-Nya

6 comments

Lewat hujan siang ini Tuhan membahasakan cintanya pada kota Kretek ini. Seakan rindu akan cinta Tuhannnya, rerumputan di lereng gunung Muria menengadah menyambut bulir-bulir hujan yang turun. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak mereka tentang surga dan neraka, apalagi merindukan keduanya. Yang mereka tahu hanyalah merindukan siratan cinta sang pencipta.

Saturday, 11 August 2012

Kenapa Niat Kudu Diucapkan?

7 comments

Niat memang suatu hal yang krusial. Saya sebut krusial karena semua perbuatan itu bergantung pada Niatnya. Jika niatnya baik maka perbuatan itu pun menjadi baik, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu Sabda Nabi: “Innama Al A’malu Bin Niat” (Al Bukhori: 1, Muslim: 1907). Karena saking krusialnya, maka kita bisa lihat di setiap amalan syar’i (ibadah) selalu terdapat Niat dalam rukunnya. Karena begitu pentingnya bahasan Niat ini, maka saya terpancing membuat artikel tentang “niat”.

Sebenarnya definisi Niat sendiri itu apa sih?. Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), Niat menurut kamus Al Munawwir adalah maksud, tujuan, ketetapan hati, tekad, keinginan. Sedangkan secara istilah (terminologi), Niat menurut Kitab Fathul Qorib adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya. Kalau guru saya menjelaskannya dengan gampang, Niat itu krentege ati. Jelas, niat tempatnya bukan di mulut tapi di hati. Jika hati niat melakukan A walaupun yang diucapkan mulut adalah niat melakukan B maka itu tidak menjadi penghalang batalnya niat, karena memang tempatnya niat adalah di hati. Jadi, hati merupakan kunci dari semua pekerjaan. Sehingga benar “Idza sholuhat sholuhal jasadu kulluhu, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu, ala wahiya Al Qolbu”.

Tuesday, 1 November 2011

Ungkapan Cinta itu Tidak Selalu Sama, Kawan..

0 comments

"Jika aku seorang pujangga, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat lantunan puisi yang indah.
Jika aku seorang florist, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat bunga mawar yang indah nan harum.
Jika aku seorang seniman, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat karya seni yang elok nan cantik."

Begitulah kalimat singkat yang pernah diungkapkan salah seorang dosen kepada saya mengenai perbedaan faham tentang "Sholawatan" (suatu puja-pujian yang biasa dilantunkan untuk Rosulullah yang dikemas dalam bentuk sya'ir-sya'ir yang dilagukan). Memang tidak akan selesai-selesai jika membicarakan tentang perbedaan-perbedaan faham diantara kita, apalagi antara satu dengan yang lainnya tidak ada yang mau mengalah, semua merasa benar.

Sholawatan bagi sebagian umat Islam merupakan suatu bentuk pengungkapan rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Sya'ir-sya'ir yang dilantunkan pun hanya berkisar tentang puji-pujian kepada beliau, ahlu bait, dan shohabatnya. Begitulah, layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta, kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya pasti berkisar tentang memuji, merayu, dll. Jika didapati sya'ir-sya'ir dalam sholawatan kelihatan sedikit berlebihan dalam memuji Rosulullah, hal itu juga yang dilakukan oleh para pemuda kepada wanita yang sedang digilainya. Saat pemuda sedang tergila-gila pada wanita, maka yang dilakukan pemuda tersebut adalah memujinya (nggombal) untuk pedekate dan selanjutnya bisa dekat dengan si dia. Begitulah kiranya sedikit gambaran tentang pertanyaan "mengapa orang-orang mengagung-agungkan Nabi Muhammad sampai membuat syair-syair semacam itu?"

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More