My Family

Inilah Keluarga Kecilku di Surabaya

Puisi Gus Mus

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Ma Lii Habibun Siwa Muhammad

Aku Mencintai-Mu Tanpa Ku Tahu Siapa Diri-Mu

Tak Kan Terganti

Alunan Simfoni yang Sebenarnya Aku Tak Ingin Mendengarkan Lanjutannya

Monday, 18 June 2012

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”, kata Gus Mus

46 comments

KH. Musthofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus merupakan salah satu dari sekian banyak  Ulama’ yang kita miliki. Gus adalah sapaan ala masyarakat pesantren kepada seorang putra Kyai. Ya, Gus Mus adalah putra dari KH. Bisri Musthofa (Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang).

Gus Mus, Kyai lulusan Universitas Al Azhar Cairo ini sekarang sedang disibukkan dengan menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang.  Selain dikenal sebagai seorang Kyai, Gus Mus juga dikenal sebagai seorang Budayawan, Penulis produktif, dan Seniman. “Cintamu”, “Ada Apa Dengan Kalian”, “Sajak Atas Nama”, dan “Gelap Berlapis-lapis”, adalah sekian dari banyak puisi karya beliau. Diantara puisi-puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” adalah salah satu yang aku sukai. Rangkaian kata Bahasa Indonesia dengan menggunakan tata Bahasa Arab ala Gus Mus yang satu ini memiliki seni yang tinggi. Kritik pedas yang disampaikannya terdengar sangat indah karena dibalut dengan seni. Apalagi alunan musik yang syahdu dan logat khas bacaan Gus Mus yang semakin membuat keindahan puisi ini begitu lengkap. Selamat menikmati sajian kali ini......

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Tuesday, 8 May 2012

Peranan Pesantren Sebagai Pengawal Kebudayaan Islam di Tanah Air

0 comments

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin pada mulanya datang ke Indonesia lewat para pedagang dari Gujarat. Bagaimana bisa Islam sebagai agama pendatang menjadi agama mayoritas? Apakah dikarenakan metode dakwah Islam yang keras seperti sekarang ini? Tentu saja tidak. Metode dakwah Islam sekarang yang keras (walaupun tidak keseluruhan, tapi itulah yang terlihat di mata dunia) malah menimbulkan banyak berkurangnya simpatisan Islam. Bukan menimbulkan citra baik di mata dunia malah memperburuk citra Islam.

Masih ingatkah kita dengan metode-metode yang digunakan oleh para wali di tanah Jawa dulu? Sunan Giri dengan Gending Asmaradana dan Pucung, Sunan Kalijaga dengan Wayang Kulit dan Gamelan, Sunan Muria dengan Tembang Kinanthi dan Sinom, Sunan Kudus dengan Menara dan Sapi, dan masih banyak yang lain. Lewat tradisi-tradisi masyarakat Jawa yang memiliki berbagai kepercayaan seperti Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme, para wali dengan sangat perlahan-lahan memasukkan syari’at Islam ke dalam tradisi yang sudah ada, sehingga masyarakat Jawa yang dulunya mayoritas Hindu-Budha sekarang menjelma menjadi masyarakat Islam. Dengan memprioritaskan toleransi yang sangat tinggi itulah para wali mampu merebut hati masyarakat Jawa zaman dahulu, sehingga sampailah Islam pada generasi kita.

Masih ingatkah kita dengan peran para Ulama’ era Kemerdekaan? Dengan kebijakan-kebijakan dan fatwa-fatwa yang sangat menjunjung tinggi toleransi akhirnya Republik Indonesia berhasil mempertahankan kesatuan Negara ini. Demi kesatuan Republik Indonesia, Panitia Sembilan yang didalamnya terdapat K.H.A.Wahid Hasyim tidak memaksakan untuk mempertahankan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sebagai sila pertama Pancasila. Betapa mulianya keputusan tersebut sehingga NKRI bisa utuh tidak terpecah belah satu sama lain.

Tuesday, 15 November 2011

Sifat Baqo'

0 comments

Sifat Baqo' adalah wujud yang tidak ada akhirnya.Jika Allah tidak bersifat Baqo', maka Allah bakal  tidak ada. Jika Allah tidak ada, maka Allah adalah hadits, dan tentunya akan butuh muhdits. Maka akan timbul daur  tasalsul yang pada keterangan Sifat Qidam sudah dijelaskan, jelas-jelas muhal.

Tuesday, 1 November 2011

Syi'ir Tanpo Waton (Sya'ir Tanpa Judul), Gus Dur

0 comments

Saat masih gesang, banyak opini-opini Gus Dur yang mengundang perhatian publik. Mulai dari opini-opini beliau saat masa orde baru, saat menjabat menjadi Presiden RI, maupun saat sudah lengser (lebih tepatnya dilengserkan, kata Beliau). Opini-opini beliau dianggap kontroversial oleh media, karena seringkali berseberangan dengan opini kebanyakan orang. Gus (sebutan untuk anak kyai di kalangan pesantren) yang dulunya juga menyandang gelar santri (sebutan untuk murid di kalangan pesantren) dan juga bergelar kyai ini menurut sebagian kalangan diyakini memiliki pemikiran yang selangkah lebih maju dibandingkan Bangsa ini.

Tidak hanya ketika masih gesang, semenjak wafatnya Gus Dur 2 tahun lalu, banyak fenomena-fenomena yang berkaitan dengan Almarhum yang mengundang perhatian publik. Mulai dari maqbaroh beliau yang ramai dikunjungi peziarah layaknya maqbaroh para Wali Songo di tanah Jawa ini, sampai yang akhir-akhir ini sedang meroket adalah syi'ir beliau. Di daerah Surabaya dan sekitarnya misalnya, setiap setelah adzan nampaknya syi'ir Gus Dur ini menjadi hal yang wajib diperdengarkan, hehe.. Syi'ir berbahasa Jawa ini  selain dilantunkan beliau dengan nada yang merdu, juga isinya yang merupakan nasihat-nasihat hasil pemikiran Beliau yang sangat dalam artinya. Sehingga tidak heran jika Syi'ir ini digandrungi publik.

Inilah lirik Syi'ir Tanpo Waton tersebut:

Ungkapan Cinta itu Tidak Selalu Sama, Kawan..

0 comments

"Jika aku seorang pujangga, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat lantunan puisi yang indah.
Jika aku seorang florist, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat bunga mawar yang indah nan harum.
Jika aku seorang seniman, akan kuungkapkan rasa sayangku padamu lewat karya seni yang elok nan cantik."

Begitulah kalimat singkat yang pernah diungkapkan salah seorang dosen kepada saya mengenai perbedaan faham tentang "Sholawatan" (suatu puja-pujian yang biasa dilantunkan untuk Rosulullah yang dikemas dalam bentuk sya'ir-sya'ir yang dilagukan). Memang tidak akan selesai-selesai jika membicarakan tentang perbedaan-perbedaan faham diantara kita, apalagi antara satu dengan yang lainnya tidak ada yang mau mengalah, semua merasa benar.

Sholawatan bagi sebagian umat Islam merupakan suatu bentuk pengungkapan rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Sya'ir-sya'ir yang dilantunkan pun hanya berkisar tentang puji-pujian kepada beliau, ahlu bait, dan shohabatnya. Begitulah, layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta, kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya pasti berkisar tentang memuji, merayu, dll. Jika didapati sya'ir-sya'ir dalam sholawatan kelihatan sedikit berlebihan dalam memuji Rosulullah, hal itu juga yang dilakukan oleh para pemuda kepada wanita yang sedang digilainya. Saat pemuda sedang tergila-gila pada wanita, maka yang dilakukan pemuda tersebut adalah memujinya (nggombal) untuk pedekate dan selanjutnya bisa dekat dengan si dia. Begitulah kiranya sedikit gambaran tentang pertanyaan "mengapa orang-orang mengagung-agungkan Nabi Muhammad sampai membuat syair-syair semacam itu?"

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More