Saat masih gesang, banyak opini-opini Gus Dur yang mengundang perhatian publik. Mulai dari opini-opini beliau saat masa orde baru, saat menjabat menjadi Presiden RI, maupun saat sudah lengser (lebih tepatnya dilengserkan, kata Beliau). Opini-opini beliau dianggap kontroversial oleh media, karena seringkali berseberangan dengan opini kebanyakan orang. Gus (sebutan untuk anak kyai di kalangan pesantren) yang dulunya juga menyandang gelar santri (sebutan untuk murid di kalangan pesantren) dan juga bergelar kyai ini menurut sebagian kalangan diyakini memiliki pemikiran yang selangkah lebih maju dibandingkan Bangsa ini.
Tidak hanya ketika masih gesang, semenjak wafatnya Gus Dur 2 tahun lalu, banyak fenomena-fenomena yang berkaitan dengan Almarhum yang mengundang perhatian publik. Mulai dari maqbaroh beliau yang ramai dikunjungi peziarah layaknya maqbaroh para Wali Songo di tanah Jawa ini, sampai yang akhir-akhir ini sedang meroket adalah syi'ir beliau. Di daerah Surabaya dan sekitarnya misalnya, setiap setelah adzan nampaknya syi'ir Gus Dur ini menjadi hal yang wajib diperdengarkan, hehe.. Syi'ir berbahasa Jawa ini selain dilantunkan beliau dengan nada yang merdu, juga isinya yang merupakan nasihat-nasihat hasil pemikiran Beliau yang sangat dalam artinya. Sehingga tidak heran jika Syi'ir ini digandrungi publik.
Inilah lirik Syi'ir Tanpo Waton tersebut:









