My Family

Inilah Keluarga Kecilku di Surabaya

Puisi Gus Mus

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Ma Lii Habibun Siwa Muhammad

Aku Mencintai-Mu Tanpa Ku Tahu Siapa Diri-Mu

Tak Kan Terganti

Alunan Simfoni yang Sebenarnya Aku Tak Ingin Mendengarkan Lanjutannya

Friday, 16 September 2011

Alfiyah dan Aljabar

0 comments

Karya ini tertulis satu tahun yang lalu, namun tersimpan rapi.:)
inilah kitab alfiyah yang kupelajari dulu

Qoola muhammadun huwa bnu maliki ahmadu robbillaha khoiri maliki, begitulah bunyi bait pertama Alfiyah ibnu Malik, suatu kitab yang kupelajari di Madrasahku dulu. Madrasah di tengah sawah dengan pemandangan seadanya itu selalu mengingatkanku pada teman-temanku yang gila-gila. Ya, gila menurutku, karena kami selalu bercanda setiap hari tanpa batas. Hehe, ingin ketawa sendiri jika mengingat-ingat canda tawa mereka. Enam tahun bersama membuat kami tahu karakter satu sama lain, sehingga terjalinlah tali-tali persahabatan yang dirajut dengan canda tawa /*lebay, hehe..*/. Suatu keakraban yang terjalin sangat erat, sehingga tidak ada batas dalam ejek-mengejek tanpa disertai kemarahan bagi yang diejek, hmm..

Namun jangan salah, di balik canda tawa yang bisa dikatakan keterlaluan itu, tidak serta merta kami melupakan tujuan keberadaan kami di Madrasah kami tercinta. Ya, tholabul ‘ilmi. Mulai dari jurumiyah sampai alfiyah kami lahap, hehe.. Tidak berhenti sampai di situ, prestasi-prestasipun berhasil ditorehkan orang-orang gila itu, walaupun aq g’ ikut berprestasi. Dengan gaya bercanda kami yang khas membuat aktivitas tholabul ‘ilmi selama 6 tahun menjadi tidak terasa. Hafalan-hafalanpun kami jalani dengan “ikhlas”, walaupun tidak sedikit yang belum khatam, hehe.. Banyak yang kami dapatkan selama 6 tahun itu, persahabatan, kekeluargaan, karakter, dan yang paling penting adalah ilmu. Terimakasih teman-temanku. Bangga bisa menjadi orang-orang hebat seperti mereka, walaupun malu juga punya teman seperti mereka, hahaha…/*bercanda*/. Sekarang kami sudah tidak bisa bercanda lagi seperti dulu kawan, jarak yang jauh telah merebut canda tawa itu. Harapanku agar kami bisa berkumpul dan gila-gilaan seperti dulu lagi ketika kami semua sudah menjadi orang-orang sukses di jalannya masing-masing, Amiiin….

Friday, 3 June 2011

Sifat Qidam

0 comments

Sifat Qidam adalah tidak adanya permulaan bagi wujud Allah. Berbeda dengan wujudnya makhluk yang ada permulaannya.
Sekarang timbul pertanyaan, Qodim dan Azali itu memiliki arti satu ato berbeda??
Ada dua kemungkinan jawaban:
- Jika mempunyai arti satu, maka Qodim adalah wujud yang tidak ada permulaannya, begitu juga Azali.
- Jika artinya berbeda, maka Qodim adalah wujud yang tidak ada permulaannya. Dan Azali adalah sesuatu yang tidak ada permulaannya, baik wujud maupun tidak. Dengan demikian, Azali lebih umum dari Qodim. Contoh Azali yang bukan merupakan wujud adalah seperti Sifat Muhal Allah dan Sifat Wajib Allah yang berupa tingkah ato keadaan, contoh: Qodiron, Muridan, 'Aliman, dll.
Sifat Muhal Allah itu tidak ada tapi tidak ada permulaannya. Jadi Sifat Muhal Allah adalah Azali bukan Qodim. Sedangkan sifat wujud dan dzat Allah itu ada dan tidak ada permulaannya. Jadi sifat wujud dan dzat Allah bisa Azali dan bisa Qodim.

Tuesday, 31 May 2011

Sifat Wujud

1 comments
alam semesta: dalil sifat wujud

Definisi "WUJUD" dalam kifayatul 'awam dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pendapat Imam Asy'ari --> Wujud = 'ainul maujud
2. Pendapat selain Imam Asy'ari --> Wujud = ghoirul maujud
Kita berbicara pendapat kedua dulu ya, hehe.. Wujud adalah tingkah yang wajib ada pada maujud (dzat) selama maujud (dzat) itu ada, jadi wujud tidak ada jika dzat tidak ada. Oke..?? Analoginya gini nih: jika dzat terpotong-potong maka wujud tidak terpotong-potong. Jadi menurut pendapat ini, wujud tidak bisa menduduki atau bahkan mengungguli keadaan maujud (dzat), kecuali ketika dapat dilihat. Begitu juga, wujud tidak dapat menduduki atau mengungguli ma'dum (sesuatu yang tidak ada) kecuali memang sesuatu itu tidak ada.
Contoh: Bolpoin. Bolpoin yang kita lihat itu adalah maujud (dzat), sedangkan wujud itu ada pada bolpoin. Jadi wujud akan tetap ada selama bolpoin itu ada, dan tidak terpotong-potong jika bolpoin itu terpotong-potong.

Maujud (dzat) akan mempunyai sifat wujud tanpa adanya alasan tertentu, jika dzat itu ada maka dzat itu pasti bersifat wujud. Berbeda dengan sifat Qudrat, dzat akan mempunyai sifat qudrat harus dengan alasan yaitu dzat tersebut berkuasa, kalo tidak berkuasa ya tidak bersifat Qudrat. Maka dari itu sifat wujud disebut sifat nafsiyyah, yaitu sifat yang berada pada dzat yang dzat tersebut tidak dapat ditemui kecuali harus bersamaan dengan sifat tersebut.

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More