Pada bulan yang mulia ini, rasa-rasanya para pengguna medsos tak juga mengendurkan urat sarafnya. Saling hina-menghina satu sama lain masih tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya. Saling caci mencaci juga tak berkurang sedikitpun, masih ada saja hewan-hewan berkeliaran di medsos.
Dulu, saat trayek saya masih sebatas kamar pesantren – masjid – toilet, rasanya hidup tak serumit sekarang ini. Meski doktrin Al-Qur’an dan Hadits hampir tiap hari masuk di telinga saya, tak pernah sekalipun Kiai saya memberikan contact person makelar surga. “Surga dan neraka adalah makhluk, sama seperti kita”, kata Kiai saya.
Kalau boleh saya memberikan analogi,
hidup adalah mendaki gunung. Dari kaki gunung, tujuan pendakian kita adalah
puncak gunung. Meski puncak gunung hanya ada satu, tetapi untuk menujunya, tak
bisa dipungkiri, ada banyak jalan. Kita bisa terus yakin bahwa jalur kita
adalah jalur yang benar, tapi kita tidak bisa menyalahkan saudara-saudara kita
yang mendaki lewat jalur lain. Kenapa? Karena kita hanya sebatas membawa
keyakinan masing-masing. Kita belum memastikan sendiri bahwa jalur yang kita
lalui memang benar jalur yang mengantarkan kita pada puncak gunung.









