My Family

Inilah Keluarga Kecilku di Surabaya

Puisi Gus Mus

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Ma Lii Habibun Siwa Muhammad

Aku Mencintai-Mu Tanpa Ku Tahu Siapa Diri-Mu

Tak Kan Terganti

Alunan Simfoni yang Sebenarnya Aku Tak Ingin Mendengarkan Lanjutannya

Friday, 18 November 2022

Tumbuhlah Sebagai Pecinta, Anakku

0 comments

Hanin, semenjak di dalam kandungan, Ibumu tidak merasakan payah sebagaimana yang telah dia rasakan pada kehamilan-kehamilan sebelumnya. Ya, Ibumu telah hamil 3 kali sebelumnya. Kakakmu, Mas Ubab, adalah kehamilan yang ketiga, setelah dua kehamilan sebelumnya keguguran. Penantian dua tahun pertama yang telah melewati berbagai ikhtiyar, akhirnya terbayarkan saat mendapat kabar bahwa Ibumu mendapatkan kehamilannya yang pertama. Hingga akhirnya kehamilan ibumu mengalami keguguran sampai dua kali. Pada saat itulah, Tuhan menunjukkan kasih sayangNya dengan mengirimkan kakakmu di tengah-tengah keluarga ini. Kakakmu Ubab adalah manifestasi Jamaliyyah-Nya.

Adanya Ubab kami anggap sebagai wujud belas kasih Tuhan, sehingga kami tidak terpikirkan kalau akan diberikan amanah lagi untuk kedua kalinya. Hanin, anakku, kelahiranmu adalah bukti kedigdayaaan Tuhan. Engkau adalah manifestasi Jalaliyyah-Nya. Tuhan menunjukkan keperkasaan-Nya di saat hambanya tidak merengek untuk diberi ini itu.

Engkau lahir di Tanah Pahlawan, di mana Bapak dan Ibumu menempuh pendidikan empat tahunnya. Di kota itulah Bapak dan Ibumu bertemu untuk yang pertama kali, 12 tahun sebelum kelahiranmu.

Pagi itu, di penghujung Romadlon 1442, Ibumu masih sempat makan sahur sebelum berangkat ke Rumah Sakit. Di sepanjang perjalanan hingga mengantarkan Ibumu ke ruang bersalin, ucapan sholawat tak henti-hentinya ku lantunkan, memohon pertolongan kepada kekasih-Nya untuk memintakan kemudahan dalam kelahiranmu. Sayangnya, masa itu adalah masa pandemi, aku tidak diperkenankan menemani Ibumu memperjuangkan kelahiranmu. Aku pergi ke Musholla untuk melaksanakan sholat Shubuh dan merapalkan doa apa saja yang bisa ku rapalkan. Setelah shubuh, tanggal 11 Mei 2021, di penghujung Romadhon, tangismu menandai awal perjalananmu di dunia fana ini. Alhamdulillah Alhamdulillah, hanya pujian kepadaNya yang bisa aku ucapkan.

Thursday, 31 December 2020

Selamat Ulang Tahun Yang Pertama, Anakku

0 comments

Tepat setahun yang lalu ibumu kesakitan di ranjang rumah sakit Kartika. Tapi tak usah khawatir, ibumu pernah merasakan sakit yang sama, sebelumnya, bahkan sebanyak 2 kali. Dua kali kehamilan ibumu pernah keguguran, sebelum akhirnya Tuhan mengijinkannya melahirkanmu.

Bedanya, kali ini aku bisa menemaninya merasakan sakitnya. Sebelumnya, 2 kali ibumu merasakan sakitnya keguguran di ranjang rumah sakit, sendirian. Sementara aku, bapakmu, harus mengurus administrasi rumah sakit.

Malam itu, malam tahun baru penanggalan masehi tahun 2020, ucapan sholawat tak henti keluar dari bibirku saat menemani ibumu. Itulah yang biasa bapak lakukan dalam kondisi terpepet dan tak tau lagi harus bagaimana. Sementara di sisi lain, 3 orang bidan sedang berjuang melahirkanmu ke dunia yang penuh tipu daya ini.

Dan akhirnya, tepat tengah malam, tangismu pecah beriringan dengan suara-suara letusan kembang api alun-alun kota ini. Alhamdulillah  alhamdulillah, ucapku lirih saat itu, bersyukur kepada Tuhan yang telah melancarkan kelahiranmu.

Friday, 11 September 2020

Tumbuhlah Menjadi Orang Baik, Nak

0 comments


Di usianya yang ke delapan bulan, Ubab mulai kami ajak berkunjung ke tempat orang-orang sholeh. Bagi kami, mengunjungi orang-orang sholeh menjadi salah satu solusi untuk sejenak keluar dari hiruk pikuk dunia.

Dulu, sebelum kehamilan pertama ibunya, kami banyak berkunjung ke tempat-tempat orang sholeh untuk merapalkan doa bagi kehamilan yang tak kunjung datang setelah hampir 2 tahun. 

Dalam Al-Quran ada riwayat cerita tentang kehamilan istri Nabi Zakariyya yang fenomenal itu. "Hunalika da'a Zakariyya robbahu", di sanalah (di mihrab Maryam) nabi Zakariyya berdoa kepada Tuhannya. Diksi hunalika (di sanalah, di mihrab Maryam) mengajarkan kepada kita bahwa salah satu faktor penting dalam berdoa adalah pemilihan tempat. 

Maka, pikir kami saat itu, tidak ada salahnya kita mencoba "trik" Nabi Zakariyya. Dengan sepeda motor, kami mbolang ke tempat-tempat orang sholeh di sekitar Jakarta, mulai dari Habib Ali Kwitang, Habib Husen Luarbatang, Habib Hasan mbah priok, Syekh Salim bin Sumair mushonnif Safinah, Habib Kuncung, Habib Mundzir Al Musawa, Mbah Hasyim Muzadi, dan lain-lain. Begitu juga saat kami pulang ke Jawa Timur, tempat-tempat orang sholeh seperti Sunan Ampel dan Mbah Kholil Bangkalan tak luput kami kunjungi.

Dan kini, nampaknya sudah saatnya hobi berkunjung ini dikenalkan kepada Ubab. Kemarin, dia kami ajak berkunjung ke Sunan Kudus, Sunan Prawoto, dan mbah Saridin.

Friday, 23 June 2017

Ramadan Pertama Sebagai Suami

0 comments

Semenjak hari pernikahanku dan istri, hari-hari berjalan sebagaimana seharusnya berjalan. Segalanya berjalan seperti angin yang setiap saat memang harus bergerak menuruti titah Tuhannya. Bahkan untuk sekedar memikirkan merencanakan segala sesuatunya setelah pernikahan saja, kami belum melakukannya. Hingga tiba pada saatnya aku harus mengikuti arah angin ke ibukota.

Ini adalah perantauan kedua dari kota yang telah menempa hidupku. Namun, kali ini berbeda, jasadku telah menjadi dua. Aku harus memikirkan keduanya.

Hari demi hari ku jalani biasa saja, sama seperti sebelum menikah. Hanya satu yang berbeda: istriku. Istriku adalah aku dalam wujud yang lain. Istriku penuh perencanaan. Dia terbiasa mencatat daftar kegiatan apa saja yang harus dilakukannya. Sama sekali berbeda denganku. Namun, aku tahu, dia memang dikirim Tuhannya untuk melengkapi segala yang tak ada padaku.

Tuesday, 20 June 2017

Hidup Adalah Pendakian

0 comments

Pada bulan yang mulia ini, rasa-rasanya para pengguna medsos tak juga mengendurkan urat sarafnya. Saling hina-menghina satu sama lain masih tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya. Saling caci mencaci juga tak berkurang sedikitpun, masih ada saja hewan-hewan berkeliaran di medsos.

Dulu, saat trayek saya masih sebatas kamar pesantren – masjid – toilet, rasanya hidup tak serumit sekarang ini. Meski doktrin Al-Qur’an dan Hadits hampir tiap hari masuk di telinga saya, tak pernah sekalipun Kiai saya memberikan contact person makelar surga. “Surga dan neraka adalah makhluk, sama seperti kita”, kata Kiai saya.

Kalau boleh saya memberikan analogi, hidup adalah mendaki gunung. Dari kaki gunung, tujuan pendakian kita adalah puncak gunung. Meski puncak gunung hanya ada satu, tetapi untuk menujunya, tak bisa dipungkiri, ada banyak jalan. Kita bisa terus yakin bahwa jalur kita adalah jalur yang benar, tapi kita tidak bisa menyalahkan saudara-saudara kita yang mendaki lewat jalur lain. Kenapa? Karena kita hanya sebatas membawa keyakinan masing-masing. Kita belum memastikan sendiri bahwa jalur yang kita lalui memang benar jalur yang mengantarkan kita pada puncak gunung.

Sunday, 27 December 2015

Chaos Theory dan Kompleksitas Keadilan Tuhan

0 comments

Belum lama memang saya mengenal Chaos Theory. Teori ini baru saya dengar dan saya kenal pertama kali dari teman satu kelompok pada mata kuliah Pemodelan, semester 5. Pada mulanya telinga saya biasa saja, seperti halnya saat pertama kali mendengar teori-teori aneh yang telah dinamai oleh penemunya masing-masing. Namun, ketika teman saya tadi mengatakan bahwa ada istilah unik dalam Chaos Theory yang menghasilkan penemuan baru, bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil mampu menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian, ada rasa penasaran yang menggerakkan jemari cantik saya untuk mencari tahu teori ini. Rasa penasaran tersebut pada akhirnya membuat saya tahu tentang istilah Butterfly Effect dalam Chaos Theory yang dikenalkan oleh Edward Norton Lorenz. Ya, Lorenz, mirip dengan penjahat yang memainkan kekacauan pada Chaos; film dengan alur cerita yang sangat cantik.

Dalam Matematika, sebuah sistem dikatakan chaos apabila memenuhi tiga syarat; sensitif pada kondisi awal, memiliki sifat pencampuran topologis, serta memiliki orbit periodik yang padat. Butterfly Effect adalah istilah dalam Chaos Theory yang berhubungan dengan ketergantungfan yang peka pada kondisi awal, dimana perubahan kecil pada suatu tempat dalam sistem non-linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian.

Lorenz sendiri adalah seorang peneliti meteorologi yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Matematika dan Meteorologi dari MIT. Dalam penelitiannya untuk meramalkan kondisi cuaca, Lorenz menyelesaikan 12 persamaan differensial non-linear dengan komputer. Pada mulanya, ia memasukkan enam angka di belakang koma sebagai input sistem. Kemudian, untuk menghemat waktu processing, Lorenz hanya memasukkan tiga angka di belakang koma. Mungkin, pikirnya kala itu, sangat kecil sekali -sudah sangat, masih diimbuhi sekali- pengaruhnya 0,0009 bagi perhitungan matematis. Tapi ternyata, output dari sistem yang dibuatnya sangat mengagetkan. Dibuangnya 3 bilangan di belakang koma dari nilai input sebelumnya memberikan hasil yang berbeda sama sekali dengan hasil simulasi sebelumnya.

Saturday, 5 September 2015

Teori Graph Mengajarkan Hakikat Hidup

5 comments

Sebagai seorang "bekas" mahasiswa Matematika, saya tahu bagaimana rumitnya membuat rute paling efektif suatu jalan. Bagi mahasiswa Matematika yang menggeluti graph mungkin tahu jelas bagaimana hitungan-hitungannya. Graph adalah himpunan benda-benda yang disebut vertex yang dihubungkan oleh edge. Biasanya, graph digambarkan oleh kumpulan beberapa titik (disebut vertex) yang dihubungkan oleh garis-garis (disebut edge). Dari satu titik ke titik lain dihubungkan oleh garis yang memiliki nilai atau beban.

Membahas teori graph ini butuh waktu yang lumayan menyita kegiatan penting semacam tidur. Untuk dasar dari teori graph saja mesti mengambil kuliah Matematika Diskrit 3 sks, belum lagi mata kuliah Teori Graph yang juga 3 sks. Namun tenang kawan, di sini akan saya jelaskan aplikasi sederhana dari teori ini. Sebenarnya banyak sekali problem di kehidupan ini yang bisa diselesaikan dengan teori graph. Satu contoh yang akan saya ambil adalah pemilihan rute terpendek dari suatu graph (The shortest Path Problem). 

Perhatikan peta di bawah ini. Misalkan si A akan berangkat dari Kota Brebes (sebagai titik awal) menuju Kota Wonogiri (sebagai titik akhir). Perhatikan bahwa antara dua kota tersebut terdapat banyak kota yang antara satu kota ke kota lain dihubungkan dengan garis (edge).


Monday, 13 July 2015

Makna Sebuah Titipan - WS Rendra

0 comments

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,

Nama Keseratus

0 comments

Lagi-lagi aku terpesona dengan puisi mas Ammar. Campuran bahasanya yang selalu nampak menambah indah baris demi baris sajak itu menjadi ciri khas puisinya. Istilah-istilah yang dimunculkan selalu menampakkan kedalaman pengetahuannya dalam berseni. Inilah "Nama Keseratus", puisi yang sedikit banyak mengingatkan kita kepada Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

===========================
Di ujung malam temaram bertabur wirid
Seorang guru bersila bersama murid
Asma Tuhan mengalun sahut bersahut
Nasut mesra dalam asmara Lahut
Sang arif lirih bermunajat ya Ghafur
Sang murid pun menyebut sampai ya Shabur
Asmaul husna bergema dan berdengung
Sembilan puluh Sembilan nama agung
Tiba-tiba wirid sang murid terputus
Dan bertanya tentang nama keseratus
Mursyid masih larut dalam berdzikir
Sang murid pun semakin dalam berpikir
Karna sang murid tak bermaksud mengganggu
Diam ia bersabar untuk menunggu

Thursday, 26 March 2015

Tuhan yang Maha Indah

0 comments

Tuhan yang maha kasih,
Kasihilah aku dengan meneteskan sifat kasihMu
Agar aku mampu mengasihi alam semestaMu

Tuhan yang maha sayang,
Sayangilah aku dengan memancarkan sifat sayangMu
Agar aku mampu menyayangi makhluk-makhlukMu

Tuhan yang maha cinta,
Cintailah aku dengan memantulkan sifat cintaMu
Agar aku mampu mencintai wakil-wakilMu

Tuhan yang maha indah,
Kasihilah aku dengan membiaskan sifat sayangMu
Agar aku mampu mencintaiMu

Monday, 2 March 2015

Terbanglah Tinggi Garudaku

0 comments

Sejatinya hidup ini memang temporal. Tuhan menciptakan panas karena Dia juga menciptakan hujan. Begitu juga ia menciptakan senang karena sedih Ia ciptakan. Pun ada pertemuan karena adanya perpisahan. Panas dan hujan, senang dan sedih, berpisah dan bertemu, semua hanya masalah musim yang pasti akan berganti. Tak perlu risau apalagi galau, karena itulah siklus ilahiyah yang tentunya akan indah jika kita mampu memandangnya secara lebih luas.

Hidup telah mengutus sang waktu untuk menjemputmu ke pohon muda ini. Pohon yang menjagamu dari dingin dan terik beberapa tahun terakhir. Memang, hidup tidak menakdirkanmu pada pohon terbaik dari hutan ini, tapi setidaknya pohon inilah yang sejatinya kau butuhkan untuk belajar terbang – untuk belajar hidup.

Semenjak kau belum bisa terbang, pohon ini selalu memilihkan burung-burung lain untuk mengajarimu hidup. Tak jarang kau melihat elang singgah di pohon ini hanya sekedar untuk mengajarimu mencari makan sendiri. Tak sedikit pula cendrawasih dan merak yang datang hanya sekedar untuk mengajarimu memancarkan keindahan hatimu. Namun, terkadang juga kau melihat emprit yang melintas sekedar untuk mengajarimu mensyukuri nikmat Tuhanmu.

Thursday, 18 December 2014

Cerpen Kerennya Cak Nun

1 comments

DI ZAWIYYAH SEBUAH MASJID

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.

Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.

"Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya," berkata Pak Kiai kepada santri pertama, "apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?"
"Agama," jawab santri pertama.
"Berapa jumlahnya?"
"Satu."
"Tidak dua atau tiga?"
"Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan."

**

Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, "Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?"
"Islam."
"Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?"
"Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda."
"Kenapa kau katakan demikian?"
"Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam."
"Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?"
"Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia."

**
Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. "Allah mengajari Adam nama benda-benda," katanya, "bahasa apa yang digunakan?"
Dijawab oleh santri ketiga, "Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur'an."
"Bagaimana membuktikan hal itu?"
"Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam."
"Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?"
"Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah."
"Maksudmu, Nak?"
"Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur'an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil 'alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur'anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi."


Tuesday, 9 December 2014

Keadilan Tingkat Tinggi

0 comments

Dalam ilmu logika, p implikasi q akan ekuivalen dengan ~q implikasi ~p. Contoh: "jika adik naik kelas, maka Ibu akan membelikannya sepatu". Kalimat tersebut akan ekuivalen dengan "Ibu tidak membelikan adik sepatu, berarti dia tidak naik kelas."

Berhubungan dengan logika di atas, ada yang menarik dari hadits "Man yuridillahu bihi khoiron yufaqqihhu fiddin". Barang siapa yang dikehendaki khoir (baik) maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Tanpa memperhatikan konteks lebih dalam tentang "khoir" dan "faham dalam agama", kalam tersebut ekuivalen dengan "man lam yufaqqihhu fiddin lam yuridillahu bihi kohoiron". Barang siapa yang tidak difahamkan dalam agama maka Allah tidak menghendakinya khoir (baik).

Pemahaman pasarnya; berarti ada golongan yang dikehendaki Allah khoir, dan ada pula golongan yang tidak dikehendaki Allah khoir. Lebih jauhnya; ada yang dikehendaki Allah baik, adapula yang dikehendaki Allah buruk. Lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki pahala, ada yang dikehendaki dosa. Lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki mu'min, adapula yang dikehendaki kafir. Sedikit lebih jauh lagi; ada yang dikehendaki surga, adapula yang dikehendaki neraka.

Lebih parahnya lagi, jika Allah sudah menghendaki kafir, tak ada satupun yang mampu membuat menjadi mu'min. Contohnya Iblis. Iblis sudah dinash bahwa dia kafir, aba wastakbar wa kana minal kafirin. Kalu iblis ingin membatalkan ketuhanan Allah, mudah saja, tinggal dia berpindah menjadi mu'min maka akan batal Kalamullah. Namun apa daya, sekuat apapun tenaga kita mendakwahi iblis agar beriman, sampai kapanpun kita tak akan berhasil. Orang jawa menyebutnya "kalah sabdo", sudah terlanjur kalah sama Nash.

Wednesday, 3 December 2014

Hidup Tak Melulu Tentang Surga dan Neraka

0 comments
Atas nama apapun atau siapapun
Kami yakin tiada yang pantas masuk ke surga Tuhan
Namun atas nama apapun atau siapapun pula
Kami yakin tiada yang kuat berada di neraka Tuhan
Maka tiada yang pantas menyatakan kebenaran itu di surga dan kesalahan di neraka
Karena kami yakin surga dan neraka urusan ridlo Tuhan
Penggalan puisi di atas ku tuliskan 2 taun yang lalu, tepat pada saat ulang tahun Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dua tahun berselang, hari ini aku pun masih setuju dengan tulisanku itu. Allah adalah raja diraja yang menguasai kehidupan. Setiap jengkal rel kehidupan ini tak kan pernah luput dari Qudrat dan Irodat-Nya. Semua kereta berjalan menurut relnya masing-masing yang telah ditataNya rapi. Begitulah kehidupan yang ku ibaratkan rel kereta.

Jika analogiku tentang kehidupan ini benar, maka tak ada satupun makhluk yang layak meminta neraka, apalagi mengharapkan surga.

Apapun yang kita kerjakan adalah karena Qudrat dan Irodat-Nya. Tak ada yang bisa kita banggakan sama sekali dari diri kita. Lantas, masih pantaskah kita meminta balasan?. Sudah selayaknya kita tak meminta imbalan pada Tuhan atas setiap "pekerjaan" dan "rencana"-Nya sendiri.

Tuesday, 2 December 2014

Hidup Ini Ibarat Rel Kereta, Kawan

0 comments

Kalau aku boleh menganalogikan, hidup ini ibarat kereta dengan relnya. Setiap kereta berjalan di atas relnya masing-masing. Tidak ada kereta yang berjalan seenaknya sendiri keluar dari rel. Bahkan di setiap persimpangan, rel harus ditata dulu sebelum kereta melewatinya.

Semua telah diatur dengan teratur untuk menjalankan kereta dari satu tempat ke tempat yang lain.

Begitulah hidup. Tuhan adalah aktor di balik kehidupan ini. Ia maha merencanakan sekaligus maha menjalankan. Dengan kekuasaanNya (Qudrat), Ia mengatur semua yang telah Ia ciptakan. Tak ada satu pun yang bertindak seenaknya di luar perencanaanNya (Irodat). Begitu juga tak ada satu pun yang memiliki kuasa selain kuasaNya.

Friday, 28 November 2014

Puisi Cantiknya Mas Ammar Abdillah

0 comments

Diri dalam sengketa
Antara pelita dan gulita
Selalu “min hâlin ila hâl”
“Bainal hudâ wadh-dhalâl”
Kadang linglung kadang lunglai
Kadang bingung kadang terbuai
Kadang menggantung kadang menggontai
Kadang bersambung kadang tak sampai
Oh … diri…
Hati, jiwa dan kalbu
Yang mana “aku”?
Tak tampak hitam, tak tampak putih
Semua abu-abu
Ku pakai rasa, nalarku meragu
Ku pakai nalar, rasaku mengganggu
Ku pegang ajaran, ku perlu teladan
Ku pegang buku, ku jadi kaku
Ku pegang tokoh, mereka tak kokoh
Ku pegang diri, ku masih mencari
Lalu … berlalu dan berlalu
Lalai, lupa dan makin terlalu
Kalau hanya aku, maka aku benalu
Kalau semua begitu, maka betapa malu

Tuesday, 18 November 2014

Rindu Cinta-Nya

6 comments

Lewat hujan siang ini Tuhan membahasakan cintanya pada kota Kretek ini. Seakan rindu akan cinta Tuhannnya, rerumputan di lereng gunung Muria menengadah menyambut bulir-bulir hujan yang turun. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak mereka tentang surga dan neraka, apalagi merindukan keduanya. Yang mereka tahu hanyalah merindukan siratan cinta sang pencipta.

Thursday, 2 October 2014

Selamat Jalan Mutiara yang Terpendam

0 comments

Tidak bisa dipungkiri, Surabaya telah menghiasi kanvas kehidupanku dengan corak warnanya yang beragam. Lima puluh satu bulan berada di kota tersebut membuatku rindu akan kenangan yang kini hanya menjadi cerita tak berkata. Rasanya ingin sekali me'monumen'kan setiap detik dari empat tahun lebih tiga bulan itu, juga setiap jengkal dari ribuan langkah yang telah kaki ini tempuh. Namun, apalah arti semua itu bila hidupku masih saja tak bermanfaat bagi kehidupan.

Pada kesempatan nganggur di tengah-tengah kesibukan malam ini, melihat sepintas foto beliau yang diupload di group pondok membuat tanganku tak sanggup menolak untuk memonumenkan sosok Abah Yai yang pernah dengan segala teladannya mendidik lakuku.

Darussalam.. Adalah pondok kecil di salah satu sudut kota pahlawan, di pinggiran desa yang bernama Keputih, di belakang kampus besar yang bernama ITS. Pondok sederhana yang menjadi tempatku menghabiskan semester 3 sampai semester 6 kuliahku. Tidak banyak yang tahu memang. Pondok ini hanyalah pondok kecil (dulu, entah sekarang) dengan 2 kamar santri, 1 kamar ustadz, 1 ruang ngaji, dan 2 kamar mandi. Letaknya yang berada di dalam, lebih tepatnya di belakang ndalem, tanpa papan nama seperti pondok-pondok kebanyakan, membuat pondok ini semakin tak diketahui orang. Hanya cerita dari mulut ke mulut lah yang membuat keberadaan pondok ini terdeteksi orang.

Beliau lah Al-Maghfur Lah Abah Yai KH. Abdus Syakur bin Ibrahim yang menjadi magnet bagi segelintir orang-orang pilihan yang sempat nyantri di sana. "Orang se-Keputih, orang se-ITS itu pada kemana saja, ada orang seperti Abah Syakur kok dibiarkan saja", kata dosenku waktu itu. Memang, Abah Yai yang begitu itu seperti berlian yang disembunyikan. Tidak memiliki ratusan santri seperti Kyai kebanyakan. Tidak membutuhkan puluhan jama'ah pengajian seperti Kyai pada umumnya. Beliau seperti tidak mau nampak ke permukaan. Apakah seperti beliau ini yang dimaksud Ibnu Athoillah dalam Kitabnya, Al-Hikam, agar kita menanam diri dalam tanah kerendahan?

Monday, 20 January 2014

Ibu, Aku Tidak Mau Jadi Pahlawan

2 comments

Satu cerita berikut membuat para orang tua harus berpikir ulang untuk memaksa putra-putrinya menjadi nomer satu di kelasnya. Cerpen yang menginspirasi.....

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:..... "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main". Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Friday, 20 December 2013

Cukuplah Engkau Sebagai Pengganti Nilku

5 comments

Calon istriku..
Kata Amirul Mu'minin, hak anak terhadap ayahnya ada tiga
Memilihkan calon ibu yang baik
Menamai dengan nama yang baik
Serta mengajari Al-Quran

Sebagai calon ayah dari putra-putriku
Maka kupilih engkau sebagai jawaban atas satu hak mereka

Calon istriku..
Tahukah engkau cerita tentang Romeo dan Juliet?
Atau tentang kisah cintanya Sampek dan Ing Tay?
Ataukah kisahnya Laila dan Qays si Majnun itu?
Kata orang kisah mereka romantis
Bahkan mereka adalah simbol cinta kasih abadi

Namun, calon istriku..
Aku ingin membuat cerita lain bersamamu
Aku tak ingin cinta kita berpisah bersama kematian
Aku ingin cinta kita bersatu dalam pernikahan
Dan kita tetap bersama-sama bahkan setelah kematian 


Apabila kelak hanya sebuah gubug yang menjadi persinggahan kita
Takkan pernah  kunamai dengan gubug derita
Karena itu markas dakwah kita
Dan benar akan menjadi surga ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih..

Calon istriku...
Telah kusiapkan nama yang indah untuk putra-putri kita
Nama yang menjadi do'aku untuk mereka
Kelak bantu aku untuk bersama mendidik mereka dengan kasih sayang
Kenalkan mereka pada Allah dan Rasul-Nya dengan harta yang halal dan budi yang santun

Bagikan Halaman Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More